📜 Pantun Pembuka
Eme sitamba tua na sinuan ni boru enggan.
Hiras sahat tu namatua molo marpangalaho na denggan.
Marpabue attajau na sinuan ni boru parna.
Ise na malo manganju dang diallang virus corona.
📝 Cerita: Adu Kata-kata yang Tak Masuk Akal
Mirdong Pos:
Di tanah Batak dan sekitarnya, kisah adu kesaktian antar kerajaan atau antar kampung pada zaman dahulu memang sudah menjadi cerita turun-temurun. Ada yang saling menantang demi wilayah kekuasaan, ada pula yang berebut seorang gadis cantik untuk dijadikan istri atau menantu keluarga terpandang.
Namun, kejadian kali ini berbeda sama sekali.
Bukan raja melawan raja.
Bukan pendekar melawan pendekar.
Melainkan… Ibu mertua melawan menantu wedok (perempuan).
Dan yang dipertandingkan bukanlah ilmu kebal atau kekuatan tenaga, melainkan adu mulut, saling sindir, serta permainan kata-kata cerdik yang pada akhirnya membuat warga yang mendengarnya tertawa sampai sakit perut.
Peristiwa unik nan lucu itu terjadi di Desa Asom-Asom, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba. Salah seorang warga bernama Leman (43), mengaku menjadi saksi mata langsung detik-detik adu kata-kata yang luar biasa tersebut.
Menurut pengakuan Leman, awal mula masalah sederhana saja. Sang ibu mertua merasa anak laki-lakinya itu sudah berubah perilakunya sejak menikah. Ia menganggap sang anak mulai lupa kepada orang tua dan jarang berkunjung atau menghormati ibunya setelah tinggal bersama istrinya.
Merasa kecewa dan kesal, sang ibu mertua pun beberapa kali melontarkan sindiran pedas kepada menantunya. Kalimat andalannya selalu sama: “Diboto hodo, sianon doi kaluar da…” sambil menunjuk ke arah bawah. Kalimat itu terus diulang-ulang hingga membuat suasana rumah mulai terasa panas dan tegang.
Seminggu kemudian, pertengkaran kecil itu kembali pecah. Sang ibu mertua datang lagi dengan suara yang lebih tinggi dan nada yang lebih menantang. Berikut adalah percakapan lengkap mereka dalam Bahasa Batak beserta artinya:
PERCAKAPAN DALAM BAHASA BATAK
Ibu Mertua:
“Dung mangoli anakki tuho, pittor lupa do ibana tu au da…. Diboto hodo, sianon doi kaluar da.”
(Sejak menikah anakku itu sama kau, langsung lupa dia sama aku. Kau dengar ya, dia keluar dari sini !)
Beberapa kali ia mengulangi kalimat itu dengan wajah penuh kesal, lalu kembali berkata dengan nada tinggi:
“Diboto hodo..!! Sianon doi kaluar da…. Asa takkas diboto ho! Unang ginjang rohamu da!”
(Kau dengar baik-baik ya! Dia keluar dari sini..! Biar kau tahu siapa dia sebenarnya! Jangan kau merasa hebat dan sombong!)
Mendengar itu, sang menantu yang sedari tadi diam menahan diri akhirnya ikut tersulut emosi. Dengan bertolak pinggang dan berani menatap balik, ia menjawab:
“Aha nimmu Inang Simatua? Huboto do siani ibana kaluar, alai tudia masuk? Tong do tuson!”
(Apa maksud Ibu bicara begitu? Memang aku tahu dia keluar dari situ, tapi masuknya ke mana? Tetap ke sini ! )
(Sambil menunjuk ke arah bawah juga, persis seperti yang dilakukan ibu mertuanya)
Lalu ia menambahkan dengan nada sinis namun penuh kemenangan:
“Baru dape sahali kaluar siani, nga godang hatam Inang. Alai molo tuson nga masuk marribu hali dang pola hudok songon dia!”
(Baru sekali saja dia keluar dari situ, Ibu sudah ribut panjang kali lebar. Padahal kalau dihitung dia masuk ke sini, sudah ribuan kali Bu! Tapi aku diam saja dan tidak pernah mengomel atau ribut ke mana-mana!)
TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA
Ibu Mertua:
“Sejak menikah anakku itu sama kamu, dia langsung lupa sama aku. ingat ya, dia keluar dari sini !”
(Seminggu kemudian, kembali dengan marah)
“Kau dengar baik-baik! Dia harus keluar dari sini ! Biar kau tahu siapa dia sebenarnya! Jangan merasa hebat dan sombong kau ya!”
Menantu:
“Apa maksud Ibu mertua bicara begitu? Aku tahu dia ‘keluar’ dari situ, tapi kalau ‘masuknya’… ke sini !”
“Baru sekali saja dia ‘keluar’ dari ibu sudah banyak omelannya. Padahal kalau dihitung, sudah ribuan kali dia ‘masuk’ ke sini. Tapi aku diam saja, tidak pernah aku bikin masalah ngomel-ngomel ke orang lain!”
😂 WARGA PECAH TAWA MENDENGAR JAWABAN ITU
Mendengar jawaban sang menantu yang penuh permainan kata-kata itu, suasana yang tadinya tegang langsung berubah menjadi ricuh oleh gelak tawa warga yang mendengarnya. Sang ibu mertua yang awalnya begitu semangat menyerang, akhirnya hanya bisa terdiam seribu bahasa. Ia tampak kehabisan kata-kata karena sindirannya yang bermaksud buruk, dibalas dengan jawaban yang justru mengarah ke lelucon dewasa yang tak terduga.
Leman, sang saksi mata, mengaku dirinya hampir tidak percaya percakapan seperti itu bisa terjadi secara nyata.
“Kalau dengar cerita orang lain mungkin saya kira ini bohong atau berita palsu. Tapi ini betul-betul kejadian di depan mata saya. Mau marah pun jadinya susah, karena semua orang yang dengar malah ketawa terbahak-bahak,” ujar Leman sambil kembali teringat kelucuan kejadian itu.
Menurut warga sekitar, perselisihan atau pertengkaran antara ibu mertua dan menantu perempuan memang sering terjadi di banyak tempat. Namun kejadian yang satu ini dianggap paling unik dan legendaris, karena berubah menjadi adu sindiran yang berakhir lucu dan penuh makna ganda.
Pada akhirnya, pertikaian itu tidak berlanjut panjang. Sang ibu mertua memilih pergi dengan diam seribu bahasa, sementara warga Desa Asom-Asom menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan cerita paling seru untuk dibahas di warung kopi hingga berhari-hari lamanya.
(PS)












