Scroll untuk baca artikel
News

Kala Pena Kritis Terjeda, Doa Mengalir untuk Mirwan Hasibuan

90
×

Kala Pena Kritis Terjeda, Doa Mengalir untuk Mirwan Hasibuan

Sebarkan artikel ini

Labusel, Harian.co.id – Nama Mirwan Hasibuan dikenal luas di kalangan pers Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Wartawan senior ini selama bertahun-tahun konsisten menyuarakan isu-isu publik melalui catatan jurnalistik yang kritis, berimbang, dan berpijak pada nurani.

Mirwan bukan tipe jurnalis yang lantang dengan kemarahan. Kritik-kritiknya disampaikan dengan bahasa yang tenang namun tajam, menegur tanpa mencaci, dan menghadirkan fakta tanpa merendahkan.

Gaya tersebut membuat tulisannya kerap menjadi rujukan pembaca yang ingin memahami persoalan sosial secara jernih dan utuh.

Dalam dunia pers lokal, Mirwan dikenal sebagai figur yang menjunjung tinggi etika jurnalistik. Ia meyakini bahwa kritik tidak boleh kehilangan empati, sebab jurnalisme pada hakikatnya adalah kerja kemanusiaan.

Prinsip ini pula yang membuatnya tetap konsisten berada di jalur independen, meski tak jarang harus menghadapi risiko dan tekanan.

Selain aktif di dunia jurnalistik, Mirwan juga mengabdikan diri pada kehidupan keagamaan.
Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Dalam peran tersebut, ia dikenal membawa pendekatan Islam moderat yang menyejukkan dan inklusif, serta aktif mendorong dialog sosial di tengah masyarakat.

Namun kini, aktivitas Mirwan harus terhenti sementara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Mirwan Hasibuan tengah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Adam Malik, Medan.

Kondisi kesehatan tersebut membuatnya tidak dapat menjalankan aktivitas jurnalistik dan organisasi sebagaimana biasanya.

Kabar sakitnya Mirwan memantik keprihatinan dari berbagai kalangan. Rekan-rekan wartawan, tokoh masyarakat, serta pengurus NU di Labuhanbatu Selatan menyampaikan dukungan moril dan doa kesembuhan.

Bagi mereka, Mirwan bukan hanya seorang jurnalis, tetapi juga sahabat seperjuangan yang dikenal rendah hati dan teguh pada prinsip.

Dalam kondisi tersebut, pihak keluarga menyampaikan bahwa Mirwan berharap doa dari masyarakat luas.

Doa dipandang sebagai ikhtiar batin yang mengiringi upaya medis yang sedang dijalani.
“Allahumma rabban-nas, adzhibil ba’sa, isyfi anta asy-syafi, la syifa’a Illa syifa’uka, syifa’an la yughadiru saqaman,” demikian doa kesembuhan yang terus dipanjatkan oleh keluarga dan kerabat.

Terhentinya sementara pena Mirwan Hasibuan menjadi pengingat bahwa di balik keteguhan seorang jurnalis, ada manusia yang juga membutuhkan dukungan dan empati.

Publik berharap Mirwan segera pulih, kembali beraktivitas, dan kembali menghadirkan tulisan-tulisan yang selama ini menjadi suara nurani masyarakat.

(Abner Hasan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *