Di Desa Terang Bulan, pada sebuah sudut kampung yang sunyi, cahaya sore kerap menyelinap di sela pohon karet dan sawit. Ia menebarkan bayangan panjang di halaman rumah kami rumah tua tempat ayah kami Halifa Kader Pasaribu berpulang ke haribaan Ilahi dua puluh lima tahun silam.
Seperempat abad telah berlalu sejak hari itu. Waktu berjalan, usia menua, dunia berubah. Namun kepergiannya tetap meninggalkan ruang hampa yang tak pernah benar-benar terisi.
Jejak langkahnya masih hidup, seperti wangi tanah selepas hujan tak terlihat, tetapi menetap lama dalam ingatan.
Aku masih mengingat sore-sore itu. Angin berdesir di antara daun sawit, menyusup lewat jendela seperti bisikan yang tak berwujud.
Ayah duduk di ruang tamu. Tubuhnya tak lagi kekar, namun wajahnya tetap tegas dan teduh ketegasan yang tidak berisik, tetapi menancap dalam.
Dalam diam, aku pernah bertanya pada diri sendiri:
Mengapa Ayah begitu keras padaku? Mengapa hidup harus diajarkan dengan ketegasan yang kadang terasa menyakitkan?
Jawaban itu tak pernah hadir lewat kata-kata. Ia datang melalui kedalaman tatapannya tatapan seorang ayah yang memikul beban lebih berat daripada yang sanggup ia ceritakan.
Kini aku mengerti. Ketegasan bukanlah kebencian, dan amarah bukanlah permusuhan.
Ketegasan Ayah adalah cara menempa jiwaku agar mampu berdiri tegak di jalan yang benar, meski jalan itu berliku dan penuh debu. Ia adalah badai yang menjaga agar arah hidupku tidak goyah.
Ayah adalah pejuang sejati. Meski memiliki jasa, ia menolak dicatat sebagai veteran.
Baginya, keberanian bukanlah panggung untuk mengejar pujian manusia, melainkan pengabdian yang sunyi.kepada keluarga, tanah air, dan prinsip hidup.
Ia percaya, kehormatan justru tumbuh dari kerendahan hati.
Dari Ayah, aku belajar bahwa keberanian sejati lahir dari kesetiaan.
Dari Ayah, aku memahami bahwa kehormatan tidak perlu diteriakkan.cukup dijalani.
Sebagai anak tertua, aku pernah sekali melawan. Hanya sekali. Namun penyesalan itu ikut menua bersamaku, terlebih setelah ia tiada.
Kini, di usia enam puluh tiga tahun saat uban tumbuh di kepala dan langkah tak lagi secepat dulu aku sering merenung dalam kesunyian malam.
Ketika hujan menetes di atap, aku seolah mendengar bisikannya kembali:
“Ingatlah aku dalam setiap langkahmu, anakku. Aku tetap hidup di dalam dirimu.”
Setiap hari, kuhadiahkan Al-Fatihah.sebagai jembatan rindu yang tak pernah runtuh oleh waktu.
Dalam doa, aku memohon ampun atas khilaf kata yang pernah melukai, sikap yang kurang hormat, dan waktu yang terbuang tanpa cukup menghargai kehadirannya.
Aku memohon agar Allah menempatkannya di sisi terbaik-Nya.
Mengenang Ayah seperti menatap matahari terbenam: hangat, teduh, namun tak dapat kugapai lagi.
Ia hadir dalam setiap ritme hidupku.dalam napas yang kini lebih pelan, dalam desir angin, dan dalam nilai-nilai kebaikan yang kupegang sebagai kompas hidup.
Ayah tidak meninggalkan harta berlimpah. Ia meninggalkan warisan yang tak kasat mata, cahaya dan bayangan yang membentuk siapa aku hari ini.
Sebuah pesan sederhana:
Hargailah ayahmu selagi ia masih ada. Dengarkan nasihatnya, cintai ketegasannya, dan peluk pula kelemahannya. Sebab ketika ia tiada, yang tersisa hanyalah kenangan dan untaian doa Al-Fatihah, sebagai tanda bahwa kita pernah dicintai oleh sosok yang tak akan pernah tergantikan.









