Scroll untuk baca artikel
NewsPendidikan

Ketika Islam Mengajarkan Teduh: Potret Hidup Rukun di Labuhanbatu Selatan

68
×

Ketika Islam Mengajarkan Teduh: Potret Hidup Rukun di Labuhanbatu Selatan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ustad Ahmad Rohim Hasibuan, S.Pd
Tenaga Pembimbing Spiritual Kebun PTPN IV Aek Raso

Islam sejatinya hadir sebagai agama yang menenangkan. Ia menguatkan iman di dalam hati, sekaligus membimbing manusia agar hidup dengan akhlak yang ramah dan bersahabat. Wajah Islam yang teduh inilah yang tumbuh dan terasa dalam kehidupan masyarakat Labuhanbatu Selatan.

Daerah ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun di saat yang sama, saudara-saudara kita yang beragama Protestan, Katolik, Buddha, dan keyakinan lainnya juga hidup berdampingan dalam satu ruang sosial.

Perbedaan itu tidak menjadi jarak. Warga tetap bertetangga, bekerja di ladang yang sama, berjualan di pasar yang sama, dan saling menyapa dalam keseharian.
Islam sejak awal memandang perbedaan sebagai kenyataan hidup yang harus disikapi dengan kedewasaan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberagaman adalah kehendak Allah, bukan alasan untuk saling meniadakan.
“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami. Karena itu pula, Islam tidak pernah mengajarkan kebencian kepada non Muslim sebagai sesama manusia.

Soal keyakinan adalah urusan hati, dan Allah menegaskan:
“Tidak ada paksaan dalam beragama.”
(QS. Al-Baqarah: 256)
Nilai-nilai ini hidup secara nyata di Labuhanbatu Selatan. Ketika ada warga tertimpa musibah, bantuan datang tanpa menanyakan latar belakang agama.

Saat kerja bakti membersihkan lingkungan, semua ikut turun tangan. Pada momen suka maupun duka, rasa kebersamaan lebih dulu hadir sebelum perbedaan dibicarakan.

Tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut mayoritas umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama, menanamkan keyakinan bahwa hidup rukun adalah bagian dari akhlak Islam. Selama hidup berdampingan secara damai, umat Islam diajarkan untuk berbuat baik, bersikap adil, dan menjaga hubungan sosial dengan siapa pun.
Teladan Nabi Muhammad SAW menjadi rujukan utama dalam membangun sikap tersebut.

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, diceritakan bahwa Nabi berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang melintas. Ketika para sahabat bertanya, beliau menjawab singkat namun dalam maknanya:
“Bukankah ia juga seorang manusia?”
(HR. Bukhari)
Pesan ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia adalah ajaran Islam yang sangat mendasar.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebaikan seorang Muslim tidak hanya terletak pada ibadah ritual, tetapi juga pada manfaat sosial dan sikapnya terhadap sesama.
Tentu saja, toleransi dalam Islam memiliki batas yang jelas. Islam tidak mengajarkan pencampuran akidah atau pengaburan tauhid. Seorang Muslim tetap menjaga keyakinannya dan tidak mengikuti ritual agama lain. Namun perbedaan iman bukan alasan untuk saling membenci.

Islam mengajarkan menjaga jarak dalam keyakinan, tetapi mendekat dalam akhlak.
Para ulama Nahdlatul Ulama sejak lama menegaskan bahwa mencintai agama tidak bertentangan dengan mencintai tanah air.
Di Labuhanbatu Selatan, semangat ini tampak dalam kehidupan masyarakat yang relatif rukun meski berbeda keyakinan.

Kerukunan bukan berarti semua harus sama, melainkan kesediaan untuk saling menghormati dan menjaga ketenteraman bersama.

Di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya orang terpancing emosi, sikap tenang dan bijak menjadi sangat penting. Masyarakat diajak untuk tidak mudah terhasut, tidak gemar menyalahkan, dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, sebagaimana sering diajarkan para kiai kampung dari mimbar-mimbar kecil yang penuh hikmah.

Pada akhirnya, Islam di Labuhanbatu Selatan dipraktikkan sebagai ajaran yang meneduhkan. Iman yang kuat tidak ditunjukkan dengan kemarahan, tetapi dengan akhlak yang baik. Kampung yang rukun, warga yang saling menghargai, dan kehidupan yang damai menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *