Sekjend SIP, Edison Marbun, Organisasi Cerdas dan Humanis Jadi Pilar Kemajuan Bangsa.(Foto/Ist)
Medan | Harian.co.id,-Membangun organisasi yang cerdas dan humanis bukan sekadar konsep normatif, tetapi merupakan komitmen nyata untuk menghadirkan tata kelola yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Pandangan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Satgas Inti Prabowo (SIP), Edison Marbun, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, organisasi yang mampu bertahan dan memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa adalah organisasi yang terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta menjadikan manusia sebagai pusat dari setiap kebijakan dan program kerja. Hal tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan pembangunan nasional, baik di sektor pemerintahan, sosial kemasyarakatan, maupun dunia usaha.
“Organisasi cerdas lahir dari kepemimpinan yang mampu membaca zaman, memanfaatkan teknologi, dan membangun budaya kerja yang kolaboratif. Sementara organisasi humanis memastikan setiap individu dihargai, diberdayakan, dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,” ujar Edison.
Ia menilai, semangat kolaborasi yang tumbuh di tengah masyarakat menjadi kekuatan besar dalam membangun organisasi yang berdaya. Beragam unsur seperti lembaga kemasyarakatan, organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), LSM, komunitas wartawan, hingga paguyuban sosial merupakan mozaik yang memperkaya identitas bangsa. Kehadiran berbagai elemen tersebut bukan sekadar simbol keberagaman, tetapi juga menjadi motor penggerak persatuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bersama.
Lebih lanjut, Edison menegaskan bahwa organisasi yang cerdas dan humanis juga harus mampu menghadirkan ruang dialog serta partisipasi publik. Dengan demikian, setiap program tidak hanya bersifat top-down, tetapi lahir dari kebutuhan nyata masyarakat. Prinsip transparansi, akuntabilitas, serta empati sosial menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik.
Cerita-cerita inspiratif tentang kerja sama lintas komunitas, menurutnya, menunjukkan bahwa ketulusan dan kerja nyata masih menjadi nilai utama dalam kehidupan berorganisasi. Di tengah tantangan globalisasi dan dinamika sosial yang semakin kompleks, organisasi yang mampu menjaga nilai kebersamaan sekaligus berinovasi akan menjadi pilar kuat bagi pembangunan bangsa.
Di akhir pernyataannya, Edison mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan budaya gotong royong dan kepemimpinan yang melayani. “Bangsa besar dibangun oleh organisasi yang sehat, cerdas, dan berjiwa kemanusiaan. Jika kolaborasi dan empati menjadi budaya, maka kemajuan dan kesejahteraan bukan sekadar harapan, melainkan keniscayaan,” pungkasnya.(H.01)






