Modus Penipuan Catut Nama Teman Dekat, Gunakan Skenario Jual Beli Alat Berat.(foto/Ist/pelaku/unit beko)
Medan | Harian.co.id,-Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya modus penipuan online yang kini semakin canggih dengan mencatut nama orang yang dikenal, seperti kawan lama, saudara, hingga relasi bisnis. Senin pagi (20/4/2026).
Salah satu kasus dialami oleh Lili Suheli di Kota Medan. Ia hampir menjadi korban penipuan dengan skenario jual beli alat berat berupa ekskavator (beko) yang disebut-sebut berada di Jakarta Selatan.

Awalnya, pelaku menghubungi korban melalui telepon dan mengaku sebagai Syafruddin NST, seorang kawan lama yang dikenal korban. Dalam percakapan tersebut, pelaku menawarkan kesempatan untuk mengurus penjualan unit beko yang diklaim akan dilelang.
“Awalnya saya tidak menaruh curiga karena yang menghubungi mengaku sebagai kawan lama. Cara bicaranya juga meyakinkan, seolah-olah benar orang yang saya kenal,” ujar Lili Suheli.

Tanpa menimbulkan kecurigaan di awal, komunikasi pun berlanjut hingga pelaku kedua muncul mengaku sebagai calon pembeli bernama Hendrik Wijaya. Ia memperkenalkan diri sebagai relasi keluarga dan menyatakan minat untuk membeli unit tersebut.
Percakapan semakin intens, dengan kedua pelaku menjalankan peran masing-masing secara terstruktur. Pelaku pertama berperan sebagai pihak penjual, sementara pelaku kedua sebagai pembeli yang siap melakukan transaksi sesuai harga yang telah diarahkan.
“Semua sudah diskenariokan dengan rapi. Ada yang berperan sebagai penjual, pembeli, bahkan disebutkan juga tim yang akan mengecek barang di lapangan,” jelasnya.

Bahkan, pelaku juga menyusun skenario detail dengan menyebutkan nama-nama orang yang seolah-olah ditugaskan untuk mengecek unit di lapangan, termasuk istri pembeli, mekanik, hingga sopir, lengkap dengan jenis kendaraan yang digunakan.
Modus semakin meyakinkan ketika pelaku meminta pembayaran uang muka (DP) sebesar Rp150 juta sebagai syarat mengikuti proses lelang dari total nilai transaksi Rp600 juta.

Namun, kecurigaan mulai muncul ketika pelaku melarang melakukan video call dengan berbagai alasan. Saat akhirnya dilakukan panggilan video, korban melihat kejanggalan pada gerak mimik dan tampilan visual yang diduga merupakan rekayasa teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Saya mulai curiga saat diminta tidak melakukan video call. Ketika akhirnya bisa video call, gerakan wajahnya terasa tidak natural, seperti hasil rekayasa,” ungkap Lili.
Untuk memastikan kebenaran, korban kemudian menghubungi langsung Syafruddin NST melalui media sosial. Dari konfirmasi tersebut terungkap bahwa Syafruddin tidak pernah terlibat dalam transaksi tersebut dan bahkan mengaku telah beberapa kali mendapat laporan serupa dari orang lain yang mengaku dihubungi atas namanya.
“Itu bukan saya. Saya masih berada di Tapanuli Selatan dan tidak pernah menawarkan jual beli alat berat. Dalam minggu ini saja sudah ada beberapa orang yang menghubungi saya terkait hal yang sama,” tegas Syafruddin NST.
Beruntung, korban tidak sempat mentransfer dana sehingga terhindar dari kerugian yang lebih besar.
Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku penipuan kini semakin lihai dalam membangun skenario, bahkan memanfaatkan identitas orang lain serta teknologi digital untuk meyakinkan korban.
“Saya berharap masyarakat lebih berhati-hati. Jangan langsung percaya, apalagi kalau menyangkut uang dalam jumlah besar. Pastikan dulu kebenarannya,” pesan Lili.
Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap tawaran transaksi, terutama yang melibatkan nominal besar dan dilakukan secara mendadak. Verifikasi langsung kepada pihak terkait melalui jalur resmi menjadi langkah penting untuk menghindari penipuan.
Diharapkan aparat penegak hukum, khususnya Mabes Polri, dapat mengusut tuntas jaringan pelaku penipuan dengan modus pencatutan nama ini, mengingat potensi kerugian yang ditimbulkan sangat besar dan telah memakan banyak korban.(H.01)








