Penulis : Puspita Putri Febriyani¹, Siti Fatimah Azzahra² Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati CirebonLuaran Mata Kuliah: Kewirausahaan Dosen Pengampu: Lisa Harry Sulistiyowati, SE., MM. Dosen Pendamping Lapangan: Eteh Resa Asyifa, S.Pd., M.Pd
CIREBON | Harian.co.id– Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner modern, Gado-Gado Ampera di Kota Cirebon membuktikan diri mampu bertahan lebih dari tiga dekade. Berdiri sejak 1992, usaha kuliner ini tetap eksis dengan menjaga kualitas rasa sekaligus mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Kegiatan observasi dan pendampingan ini dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, yakni Puspita Putri Febriyani dan Siti Fatimah Azzahra, sebagai bagian dari luaran Mata Kuliah Kewirausahaan yang diampu oleh Lisa Harry Sulistiyowati, SE., MM., dengan dosen pendamping lapangan Eteh Resa Asyifa, S.Pd., M.Pd.

Usaha yang berlokasi di Jalan Ampera Raya Selatan No. 1, Pekiringan, Kecamatan Kesambi ini awalnya dirintis oleh Ibu Tati dan kini dilanjutkan oleh putrinya, Ibu Meli. Selama lebih dari 30 tahun, Gado-Gado Ampera dikenal dengan cita rasa khas perpaduan bumbu kacang dan kuah kari yang menjadi identitas utamanya.
“Kami lebih memilih menjaga kualitas makanan daripada mengurangi porsi. Yang penting pelanggan puas dan kembali lagi,” ujar Ibu Meli.

Konsistensi tersebut terbukti mampu mempertahankan loyalitas pelanggan. Dalam sehari, Gado-Gado Ampera mampu menjual lebih dari 150 porsi. Menu yang ditawarkan terdiri dari lontong, aneka sayuran segar, tahu, kerupuk, emping, serta siraman bumbu kacang dan kuah kari yang membedakannya dari gado-gado pada umumnya.
Namun, di balik keberhasilannya, usaha ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Kenaikan harga bahan baku menjadi kendala utama yang berdampak pada biaya produksi. Meski demikian, pemilik usaha memilih untuk tidak menaikkan harga secara signifikan, melainkan mengurangi margin keuntungan demi menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan.

Selain itu, promosi usaha masih didominasi metode dari mulut ke mulut (word of mouth). Cara ini dinilai efektif menjaga pelanggan lama, tetapi belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya generasi muda yang aktif di media sosial.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa memberikan edukasi terkait pemanfaatan digital marketing. Pendampingan difokuskan pada penggunaan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana promosi.
Mahasiswa memberikan pelatihan mulai dari pembuatan akun bisnis, penyusunan konten foto dan video produk, hingga pemanfaatan fitur seperti feed, stories, reels, serta penggunaan hashtag dan geotag agar lebih mudah ditemukan konsumen.
Selain pemasaran, tim juga memberikan masukan terkait pentingnya pencatatan keuangan yang lebih rapi dan terpisah antara keuangan usaha dan pribadi, guna mendukung pengelolaan bisnis yang lebih terstruktur.
Pendampingan ini diharapkan dapat membantu Gado-Gado Ampera memperluas jangkauan pasar tanpa meninggalkan ciri khas tradisional yang telah menjadi kekuatannya selama ini.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM dinilai menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Dengan adaptasi digital yang tepat, Gado-Gado Ampera berpeluang terus berkembang dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.(H.01)











