Ket. Foto : Jurnalis Buruh Informasi di Garis Sunyi, Refleksi May Day 1 Mei untuk Hidup yang Layak.(Ilustrasi)
Medan | Harian.co.id,– Di balik derasnya arus berita yang setiap hari kita konsumsi, ada satu peran yang kerap luput dari perhatian, jurnalis. Mereka adalah “buruh informasi” yang bekerja di garis sunyi mengumpulkan fakta, menyaring kebenaran, dan menyampaikannya kepada publik. Jumat (1/5/2026)
Momentum Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei bukan hanya milik pekerja pabrik atau sektor formal lainnya. Lebih dari itu, hari ini adalah ruang refleksi bagi semua profesi, termasuk jurnalis, yang selama ini berada di garda depan informasi namun sering tertinggal dalam hal kesejahteraan.
Di tengah tuntutan kecepatan dan akurasi, jurnalis dituntut hadir di setiap peristiwa, dari ruang-ruang kekuasaan hingga sudut-sudut masyarakat yang paling sunyi. Mereka bekerja tanpa batas waktu, tanpa jaminan keamanan yang memadai, bahkan tak jarang dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.

Ironisnya, profesi yang bertugas menyuarakan keadilan justru kerap berjuang untuk keadilannya sendiri.
Dalam semangat konstitusi dan nilai-nilai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, setiap pekerja berhak atas kehidupan yang layak dan bermartabat. Jurnalis pun demikian. Mereka bukan sekadar penyampai berita, tetapi penjaga demokrasi, pengawal transparansi, dan saksi sejarah bangsa.
Wakil Pimpinan Redaksi Medan Harian.co.id, Lili Suheli, menegaskan bahwa May Day harus dimaknai lebih luas sebagai momentum kebangkitan kesadaran kolektif.
“Jurnalis adalah bagian dari buruh yang memiliki tanggung jawab besar terhadap publik. Sudah saatnya kesejahteraan dan perlindungan mereka menjadi perhatian serius. Selamat Hari Buruh untuk seluruh pekerja di Indonesia, semoga keadilan sosial benar-benar dirasakan tanpa kecuali,” ujarnya.

May Day bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap profesi, ada manusia yang berhak hidup layak. Dan bagi jurnalis, perjuangan itu bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran, tetapi juga memperjuangkan hak mereka sendiri untuk dihargai secara adil.
Di tengah dunia yang terus berubah, satu hal yang tak boleh dilupakan: tanpa jurnalis, publik kehilangan arah. Dan tanpa keadilan bagi jurnalis, kebenaran bisa kehilangan suara.(H.01)






