Harian.co.id – Sejarah kerap menunjukkan bahwa nasib manusia tidak selalu ditentukan oleh kekuatan senjata semata, tetapi juga oleh bagaimana ia memahami tanda, pesan, dan keyakinan yang ia anggap sebagai petunjuk dari sesuatu yang lebih tinggi. Dalam peradaban Yunani Kuno, suara para dewa dipercaya hadir melalui para peramal sosok yang dimintai nasihat sebelum keputusan besar diambil.
Fenomena serupa terekam kuat dalam sejarah Nusantara. Kita mengenal jejak Raja Kertajaya dari Kediri, yang dalam kesombongannya merasa telah mencapai derajat kedewaan dan salah menafsirkan loyalitas kaum brahmana sebagai restu abadi langit. Salah tafsir ini justru membuat jalan terbuka lebar bagi Ken Arok untuk meruntuhkan takhta Kediri dalam sebuah pertempuran militer krusial pada tahun 1222 M yang dikenal sebagai Palagan Ganter. Pertempuran ini tidak hanya menandai kehancuran pasukan Kerajaan Kadiri/Panjalu di bawah pemerintahan Raja Kertajaya, tetapi juga menjadi titik balik berdirinya Kerajaan Singhasari di bawah kepemimpinan pasukan Tumapel.
Begitu pula dengan luhurnya Ramalan Jayabaya, yang hingga hari ini sering kali dipolitisasi dan disalahartikan oleh para pencari kekuasaan hanya untuk melegitimasi ambisi pribadi, tanpa memahami esensi peringatan tentang datangnya Siklus Prahara. Para pemimpin ini terjebak pada narasi yang menguntungkan ego mereka semata, abai bahwa setiap “tanda” sering kali adalah ujian, bukan sekadar restu.
Salah satu kisah paling terkenal datang dari Delphi, sebuah situs kuno di lereng Gunung Parnassus, Yunani Tengah. Pada puncak pengaruh politiknya di abad ke-6 Sebelum Masehi (SM), Delphi dianggap sebagai pusat spiritual dunia yang menjadi rujukan utama para raja, jenderal, dan pemimpin politik dalam mengambil keputusan penting. Di kompleks suci yang megah ini, berdiri Kuil Apollo yang menjadi tempat para peramal menyampaikan pesan yang diyakini berasal dari para dewa. Orang-orang dari berbagai penjuru datang membawa persembahan dan harapan, menanti jawaban atas kegelisahan mereka.
Di tengah suasana sakral dan penuh keyakinan itu, sekitar tahun 547 SM, seorang penguasa yang ambisius mendatangi Delphi untuk meminta petunjuk sebelum melancarkan invasi besar ke Persia sebuah keputusan yang kelak akan mengubah nasib kerajaannya secara drastis. Peramal kemudian menyampaikan sebuah ramalan yang singkat namun penuh teka-teki: jika invasi dilakukan, maka sebuah “kerajaan besar akan hancur.”
Kalimat itu terdengar seperti janji kemenangan. Tanpa ragu, sang penguasa menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah kehancuran Persia. Dengan keyakinan tinggi, ia pun memutuskan untuk maju berperang. Namun sejarah berkata lain.
Tafsir yang Salah, Nasib yang Hancur
Alih-alih membawa kemenangan, keputusan untuk berperang justru menjadi awal dari runtuhnya kekuasaan yang telah dibangun dengan susah payah. Ramalan yang semula dianggap sebagai tanda restu ilahi berubah menjadi kenyataan pahit yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kerajaan besar yang disebut akan hancur ternyata bukanlah Persia, melainkan kerajaan yang dipimpin oleh sang penguasa itu sendiri.
Dalam banyak catatan sejarah, tokoh tersebut dikenal sebagai Croesus, Raja Lydia yang masyhur karena kekayaan dan kejayaannya, yang memerintah antara tahun 560-546 SM. Selama bertahun-tahun, Croesus membangun reputasi sebagai pemimpin kuat yang disegani. Ia memiliki sumber daya melimpah, pasukan yang terlatih, serta pengaruh politik yang luas. Namun, semua keunggulan itu runtuh hanya karena satu kesalahan mendasar: menafsirkan pesan yang tidak pasti dengan keyakinan yang terlalu pasti.
Ambisi untuk memperluas kekuasaan membuatnya lebih percaya pada tafsir yang menguntungkan dirinya sendiri, dibanding mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih realistis. Ia tidak melihat ramalan itu sebagai peringatan, melainkan sebagai pembenaran atas rencana yang sejak awal sudah ia kehendaki. Dalam titik inilah, rasionalitas mulai tergeser oleh keyakinan yang dibentuk oleh harapan.
Ketika perang benar-benar terjadi pada tahun 546 SM, realitas di medan tempur tidak berpihak kepadanya. Kekuatan Kekaisaran Persia di bawah Koresh Agung terbukti jauh lebih besar dan lebih siap menghadapi konflik. Perlu dicatat bahwa Persia dalam konteks sejarah ini merujuk pada entitas politik dan budaya yang kini kita kenal sebagai Iran. Secara resmi, nama Persia berubah menjadi Iran pada tahun 1935, namun akar identitas, geografis, dan kebesarannya tetap bersumber dari tanah yang sama. Strategi yang ia bangun tidak mampu menandingi kekuatan lawan, dan perlahan tetapi pasti, kekuasaannya mulai runtuh. Kota-kota jatuh, pertahanan melemah, hingga akhirnya Lydia sepenuhnya berada di bawah kendali Persia.
Kekalahan itu bukan hanya kehilangan wilayah, tetapi juga kehancuran identitas dan kekuasaan. Croesus, yang sebelumnya dikenal sebagai simbol kejayaan, harus menerima kenyataan sebagai pihak yang ditaklukkan. Ramalan yang ia yakini sebagai jalan menuju kemenangan justru menjadi pengantar menuju kehancuran total. Peristiwa ini menegaskan satu hal penting: kesalahan dalam menafsirkan informasi dapat membawa dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar kekeliruan biasa.
Antara Keyakinan dan Kenyataan
Kisah ini menjadi cerminan kuat tentang bagaimana manusia kerap terjebak dalam keyakinannya sendiri, terutama ketika keyakinan itu selaras dengan keinginan dan ambisi yang telah lama tertanam. Apa yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan rasional justru berubah menjadi pembenaran emosional. Ramalan tidak lagi diposisikan sebagai peringatan yang perlu ditelaah, melainkan sebagai legitimasi atas keputusan yang sebenarnya sudah ingin diambil sejak awal.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masa lalu. Dalam konteks modern, pola yang sama kembali terlihat, termasuk dalam dinamika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Iran, sebagai pewaris sah dari peradaban Persia kuno yang pernah dihadapi oleh Croesus, kini kembali menjadi aktor kunci di panggung dunia. Konflik ini tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa militer, tetapi merupakan bagian dari tarik-menarik kepentingan geopolitik global. Kawasan Timur Tengah memiliki posisi strategis sebagai pusat energi dunia, sehingga setiap ketegangan yang terjadi di dalamnya langsung berdampak pada stabilitas global. Jalur vital seperti Selat Hormuz menjadi titik sensitif yang dapat memengaruhi distribusi energi dan harga minyak dunia.
Di balik konflik tersebut, terdapat pola aliansi yang memperlihatkan bagaimana kekuatan global bekerja. Amerika Serikat berada dalam posisi mendukung Israel sebagai sekutu strategis, sementara Iran membangun pengaruh melalui jaringan regionalnya. Seperti Croesus yang yakin bahwa ia akan menghancurkan musuhnya, dalam konflik modern pun setiap pihak percaya bahwa mereka berada di jalur yang benar. Namun sejarah berulang menunjukkan bahwa kenyataan tidak selalu mengikuti tafsir manusia.
Geopolitik yang Terjadi dan Sikap Indonesia
Dalam situasi seperti ini, banyak negara dihadapkan pada pilihan sulit. Bagi Indonesia, sikap yang diambil konsisten dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif. Indonesia tidak terlibat dalam blok kekuatan mana pun, tetapi tetap aktif mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi. Secara prinsip, Indonesia menolak eskalasi konflik dan menyerukan penghentian kekerasan, sejalan dengan amanat konstitusi.
Indonesia memiliki kepentingan langsung yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang masih bergantung pada stabilitas energi global, setiap gejolak di Timur Tengah berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi nasional. Sikap Indonesia mencerminkan upaya untuk tetap berada di tengah tidak terseret dalam arus konflik, tetapi juga tidak diam.
Pendekatan yang diambil adalah kehati-hatian, pertimbangan rasional, serta kesadaran bahwa dalam konflik besar, dampaknya selalu melampaui apa yang terlihat di permukaan. Indonesia tampak berusaha menghindari kesalahan yang pernah terjadi dalam kisah Croesus: mengambil keputusan besar berdasarkan tafsir yang sempit dan keyakinan sepihak.
Pelajaran dari Sejarah
Peristiwa ini menyimpan pelajaran penting yang tetap relevan hingga hari ini:
Informasi yang tidak jelas dapat berbahaya jika ditafsirkan secara sepihak.
- Ambisi tanpa kehati-hatian dapat berujung pada kehancuran.
- Keputusan besar seharusnya didasarkan pada pertimbangan rasional, bukan sekadar keyakinan.
- Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga cermin bagi masa kini.
Pada akhirnya, sejarah tidak pernah menghukum mereka yang ragu, melainkan mereka yang merasa terlalu pasti di atas fondasi ilusi. Antara keyakinan yang membakar ambisi dan kenyataan yang mendinginkan logika, manusia dituntut untuk berdiri di tengah; sebab kebenaran tak pernah berpihak pada mereka yang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar.
Di panggung geopolitik yang penuh teka-teki ini, kita diingatkan bahwa kehancuran sebuah bangsa sering kali bukan dimulai dari dentum meriam lawan, melainkan dari tumpulnya nalar dan patahnya pena dalam menafsirkan tanda-tanda zaman. Karena di balik setiap kerajaan yang runtuh, selalu ada pemimpin yang gagal membedakan antara restu takdir dan bisikan ego yang menjerumuskan.
Harian.co id








